Sabtu, 10 Januari 2015

MARQUES AVENUE "SURGA" BELANJA SAAT SOLDISSISME!!!!!!!






Masih berbicara tentang phenomena Soldissismes…(biar kelihatan lebih ilmiah)

Sudah 4 hari SOLDISSIMES (baca : SALE) menjadi aktifitas utama, dikota-kota di Perancis, Selain membicarakan perkembangan kasus Charlie Hebdo dan rangkaiannya…

Hari ini, Bersama dengan keluarga Dupont, aku diajak ke « Surga –nya » belanja murah di luar kota Angers namun masih di region Pay de Loire….  ya… hari ini kami pergi ke MARQUES AVENUE di kota tetangga CHOLET….

Komplek Factory Outlet barang-barang bermerk di Perancis ini, menawarkan harga GILA-GILAAN, wajar kalau semua orang dari region Pay de Loire berbondong-bondong kesana….untuk mendapatkan parkir saja kami harus berputar-putar menunggu lebih dari 20 menit, sampai ada kendaraan yang keluar. Lokasinya yang berada di La Séguinière pinggiran kota CHOLET sebenarnya cukup jauh dan sulit jika ditempuh dengan kendaraan umum, bisa dibayangkan kalau mudah dijangkau pasti padat sekali….

Ada sekitar 400 Factory outlet merk ternama di Perancis ada dikawasan ini,  mungkin beberapa merk  awam di telinga orang Indonesia. mulai dari pakaian, peralatan rumah tangga,  peralatan kebutuhan bayi,  ada disini, seperti : Catimini, Petit Bateau, IKKS, Oxbow, Tefal, Tape l’œil, Sergent Major, Kickers, New Man, Delsey, Little Marcel, dll. Tiap-tiap merk menempati bangunan-bangunan berbentuk Hanggar atau lebih mirip Gudang.


Yang fantastis adalah HARGA GUDANG yang ditawarkan disini jauh lebih murah dari yang paling murah diberikan oleh toko-toko/boutique yang sama di kota Angers, sebagai contoh saja, harga Tas merk Delsey di kota Angers (Ukuran 78cm setelah disc masih berkisar 100€) sedang disini HANYA 45€!!!! hitung sendiri berapa discount yang diberikan…. belum lagi tas-tas lainnya yang di kota harganya 30-40€ Marques Avenue hanya 12-15€…..

Panik…semua ingin dibeli, tapi apa daya uang tak cukup…. Bukan itu saja, kapasitas bagasi untuk pulang ke Indonesia hanya 30Kg…. siapa yang mau bayar extra lugagenya???? jangan-jangan dapat barang harga murah, tapi harus bayar extra luggage 50€/kg…..ampunnnnnn

SALE, SOLDES, DISCOUNT (2)…..Plus Charlie Hebdo effect




Hari Ketiga SOLDES

Setelah hari perdana  SOLDES (baca SALE) dilalui dengan sukses, hari kedua..tenyata tidak bisa berkeliling untuk “hunting” (masih) pesanan handai-taulan, karena tugas maha penting… BIMBINGAN dengan Professor pembimbing, yang melelahkan dan “mengemaskan” hati dan pikiran…

Hari ini Jum’at, 09 Januari. Setelah semalaman puas “meratapi” tugas akhir yang tak juga kunjung beres, pagi-pagi aku sudah siap untuk mencari pesanan handai taulan, pilihan hari ini adalah toko pakaian yang berada di utara, daerah Avrille……Awan kelabu, disertai gerimis plus angin kencang, pelengkap musim dingin hari ini.. Mantel hitam dan tas ransel yang peneman setia selama 2 tahun ini, siap menghadapi udara buruk ini, demi mendapatkan barang SOLDES a.k.a Discount

Turun dari bus, aku langsung memasuki toko elektronik yang cukup besar di kota ini, DEPOT ELECTRO namanya, Pagi ini sudah penuh dengan pengunjung yang mencari perelengkapan elektronik rumah tangga, mulai dari hanya sekedar cukur rambut hingga mesin cuci…dari sekedar battery radio hingga sound system bioskop, ada disini…

“Walaupun ada yang menarik hati untuk memilikinya, namun hati kecil berkata tidak!!!” (lebay mode). Kamera mini Go-Pro yang lagi trend buatan Amerika itu, masih terlalu mahal untuk ukuran kantongku…. sudahlah lupakan; Lanjut masih di kawasan yang sama, KIABI… (yang pernah tinggal di Angers pasti tidak asing dengan Toko Pakaian terjangkau plus berkualitas ini) 1,2 T-Shirt dengan harga special sudah masuk dalam tas, dan gesek-kan kartu hijau “sakti” juga ngak terlalu banyak angka € yang keluar…

Sudah hampir tengah hari..Ini hari Jum’at, waktunya sholat Jum’at, Masjid Dekat Carrefour St.Serge jadi pilihan….Khabar berantai dari KBRI tentang kewaspadaan pasca Insiden Carlie Hebdo plus info terror terhadap Masjid di beberapa kota Perancis, membuat mawas diri.. sempat ada kekhawatiran saat memasuki halaman masjid yang sudah dibarikade, dan sepi-nya pengunjung masjid.. Tapi dengan bismillah, semoga tuhan selalu melindungi…alhamdulillah Sholat Jum’at berjalan lancar dan jema’ahnya tetap ramai.

Sambil berbelanja kebutuhan dapur, Carrefour juga menawarkan berbagai discount.. lumayan biaya belanja bulanan bisa lebih irit…Niat untuk membeli beberapa pakaian sesuai keinginan handai taulan ditunda karena setelah mengunjungi beberapa boutique, belum ada warna dan modelnya belum ada yang cocok…

Dingin dan Lapar… buru-buru pulang, apalagi berita di radio…. Paris makin Gawat!!!!!!!!

SALE, SOLDES, DISCOUNT…..




Hari Pertama SOLDES

Ini adalah hari pertama SOLDES (baca SALE) musim dingin di seluruh Perancis yang akan berlangsung hinga 1 bulan kedepan (7 Januari - 7 Februari), hampir semua toko baik pakaian, makanan, alat rumah tangga, electronic, buku, dll memberikan discount harga yang “gila-gilaan”  mulai dari 20%, 30%, 40%, 50%, 60% hingga 70%, benar benar potongan harga yang mengiurkan (bukan  dinaikkan 30% dulu lalu diberi label potongan harga 20%, seperti yang saya dengar ditanah air).

Buat yang hobby belanja inilah waktunya memuaskan “nafsu”  belanja…Semua toko berlomba-lomba memasang  Iklan Discount di depan toko mereka, dengan warna dan bentuk yang menarik, Barang-barang yang disusun di etalase kaca dengan hiasan stiker warna-warni penanda jumlah potongan harga yang diberikan.

Selama ini, setiap kali masa SOLDES yang waktunya hampir 1 bulan penuh, tak terlalu menjadi perhatianku,  maklum khawatir kalau bulan berikutnya BEASISWA belum tentu datang tepat waktu jadi harus  selalu hemat, dan memendam keinginan untuk berbelanja. Berbeda tahun ini, mengingat tahun terakhirku di negara MODE ini dan juga ada titipan dari sanak-saudara akan oleh-oleh khas dari Perancis, maka tak kuasa juga untuk berbelanja. 

Udara musim dingin  di luar masih terasa (4°C) dan matahari belum muncul walaupun jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Aku sudah berada di pusat kota, tepatnya didepan toko yang menjual tas-tas bermerk Long C (yang kata orang-orang, merk tas sejuta umat bagi orang Perancis). Woww ternyata antrian sudah panjang, semuanya perempuan. ha..ha.. hanya aku sendiri yang berbeda gender dengan mereka. 

Begitu pintu Toko dibuka, mereka semua langsung menghampiri rak tas yang diinginkan, aku yakin mereka pasti sudah menentukan pilihannya jauh-jauh hari, atau bahkan sudah mengicarnya sebelum SOLDES dimulai.  Hanya aku yang masih bigung mencari-cari tas yang menjadi pesanan “Handai Taulan” di tanah air…  Titip Les Pliages, The Planetes, atau Neo Planetes, ya.. sepertinya mereka lebih mahir berbahasa Perancis dalam melapalkan type-type tas tersebut.

Diskusi via BB, Perancis –Indonesia, terkait warna, mode, type dan yang paling penting harga!!… untuk setiap tas butuh 15-20menit..  betapa girang mereka, setiap kali tahu kalau harga tiap tas bisa lebih murah ratusan ribu jika dibandingkan dengan harga di Indonesia…. ih murah bangetttt!!! 

Alléz y Monsieu,  il y à beaucoup choisi, ce matin..parce normallement apre-midi cet fini (Ayo tuan, masih banyak pilihan pagi ini, biasanya nanti siang sudah tidak ada lagi)  itu kira-kira yang diucapkan oleh pramuniaga, saat melihatku masih berdiri dipojokan sambil menunggu jawaban via BB. menunggu keputusan pilihan milih warna dan model sesuai dengan pesanan. Sepertinya dia sungguh-sunguh, karena dikiri-kananku banyak sekali perempuan tua/muda yang “kalap” memilih tas multifungsi ini. 

1, 2, 3, 4  Gesek..gesek..gesek dan gesek terus, kartu debet hijau tempat menitipkan uang €uro-handai taulan. Petugas kasir tersenyum ramah (sekali), jarang-jarang mendapatkan senyuman manis seperti ini selama di perancis.. ya mungkin karena pengaruh angka € yang berpindah kemereka.
Rasanya hari ini aku jadi orang kaya.. dengan tas-tas belanja besar yang berisi pesanan milik  handai taulan tercinta…  

Menjelang tengah hari, semakin ramai kota dengan orang-orang yang ingin berbelanja « murah » tiap-tiap toko sudah penuh, dengan antrian panjang dikasir… L’Espace d’Anjou, Mall dipingiran kota menjadi tujuan berikutnya, selain alasan udara diluar semakin dingin, di Pusat Perbelanjaan ini juga terdapat beberapa toko pakaian dan jam yang menjadi  pavorit  « Handai Taulan », Benar dugaanku disini ada jam tangan S yang discountnya hingga 30%, via BB aku mendapatkan info kalau harganya lebih murah Rp 500ribu dibandingkan harga di Indonesia….  bungkus !!!, karena merk ini cukup terkenal dan harga barang second-nya juga masih lumayan, jadi kalau bosan ngak rugi-rugi banget dijual lagi… 

Uppss di depan ada toko Parfum Shepora...salah satu toko parfum besar yang juga menawarkan disc, tapi tak banyak  merk yang mendapat discount, kalaupu ada harganya masih cukup mahal. Lagi-lagi info dari Jakarta, kalau harga di Indonesia, jauh lebih mahal…. Ayo dong.. beliin, nanti kalau uangnya kurang di transfer kok.. please!!!, bujuk rayu “handai taulan”.  okelah kalau begitu, si kartu hijau digesek kembali.

Hmm…sudah jam 16.00 cukup dulu belanja hari ini, perutku sudah merintih dari tadi, karena belum diisi… Lusa belanja lagi

Senin, 22 September 2014

Paris-Kuala Lumpur- Jakarta Yogyakarta



Alhamdulillah.. hanya itu yang terus aku ucapkan atas rezeki dari-Nya. Benar-benar diluar perkiraanku , ini untuk kedua kalinya IMIS-ESTHUA fakultas tempatku melanjutkan S3, mensponsori kepergianku ke Indonesia. walaupun kali ini hanya untuk sekali perjalanan pulang ke Indonesia, namun bonus yang didapat bukan hanya perjalanan Paris-Jakarta, tapi juga Jakarta-Yogyakarta-Bali juga ditanggung mereka….alhamdulliallah.
Ini semua tak lepas dari usaha keras Mm. Sylvine, selaku pembimbingku untuk menyakinkan pihak IMIS-ESTHUA, bahwa kehadiranku sebagai Liason Officer dalam kerjasama dengan pihak Indonesia, khususnya  para stakeholder di Yogyakarta, sangat dibutuhkan.
Seminggu sebelum keberangkatan, kepastian tiket baru aku peroleh setelah pihak keuangan ITBS mengirimkan email terkait  e-ticket Malaysia Airlines dan Garuda Indonesia untuk kepulanganku ke Indonesia. Begitupula dengan tiket kereta (TGV) Angers-Charles de Gaulle (CDG), sekali lagi aku mendapat suprised, bagimana tidak selama hampir 3 tahun di Perancis, baru kali ini aku mendapatkan kesempatan tiket TGV kelas 1 .
Kamis, 21 Maret 2014, jam 05.30 aku sudah keluar dari kamar studio 133, Residence Einstein, tempat tinggalku selama ini. udara sejuk (10°C) awal musim semidan langit yang sudah mulai terang menemani perjalanan tram menuju La Gare (Stasiun Kereta). Sesuai dengan tiket yang dikirimkan oleh pihak kampus, TGV tujuan CDG yang pertama 06.45 yang akan aku tumpangi.
Tak lama menunggu di stasiun, muncul M. Violier, Mm. Sylvine dan Mm.   sebenarnya masih ada satu orang lagi delagasi dari ITBS yang akan mengikuti Konfrensi di Bali kali ini, yakni Mm.Gwanelle, namun ia telah terlebih dulu berangkat ke Paris beberapa hari sebelumnya. jadilah kami ber4 yang berangkat dari Angers pagi ini.
06 .40 TGV no 5252 dari Nantes memasuki voie (line) C stasiun St. Laud Angers. Segera kunaikan tas besarku ke voiture (gerbong) 1st , ya gerbong executive class/Class 1. Hanya gerbong no 1 dan 2 saja sisanya kelas 2, namun bagiku tak ada yang berbeda antara kelas 1 dan 2, hanya tempat duduknya yang lebih besar dan lebih luas. Mm Sylvine memangilku untuk duduk bersama dengan mereka, ternyata mereka berada di gerbong no 2, duduk berhadapan dengan pejabat kampus (M. Violier selain sebagai pembimbing utamaku, ia juga Dekan ITBS) agak canggung rasanya. Apalagi sepanjang perjalanan mereka lebih banyak mendiskusikan tentang pekerjaanya dengan Mm   Sylvine dan Mm jadilah aku pendengar yang baik, sesekali mereka menanyakan kepadaku tentang kondisi Indonesia terkini, terutama Yogyakarta dan hal-hal lain terkait rencana kerjasama ITBS dengan UGM. Untungnya sebelum berangkat sudah kusiapkan beberapa informasi tentang Yogyakarta dan sekitarnya, baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Perancis, paling tidak membantu mereka memahami penjelasanku dalam bahasa Perancis yang masih terbata-bata.
2,5 jam perjalanan Angers-CDG tak terasa, tepat jam 09.11 TGV kami tiba di Stasiun CDG Rossy. Keluar dari stasiun kami langsung menuju terminal I yang letakknya di timur terminal II dimana stasiun TGV berada, dengan menggunakan shuttle train, lolasi counter Malaysia Airlines tidak sulit untuk dicari, dan belum banyak penumpang yang check in. Mm Gwenaelle tiba di counter MH tak lama setelah kami selesai check in.
Karena tadi pagi kami belum sempat sarapan, maka kami putuskan untuk mencari café yang tak jauh dari MH Counter. Aku sendiri hanya membeli 1 Croissant dan Coklat Panas, seharga 6,70€ yang harganya cukup mahal untuk kantong mahasiswa sepertiku.
Selesai menikmati sarapan pagi, kami putuskan untuk langsung menuju gate 22 dimana pesawat MH 21 akan diberangkatkan. Suasana ruang tunggu gate 22, sudah penuh dengan penumpang, sebagian dari mereka adalah rombongan orang-orang melayu Malaysia yang baru pulang dari melancong namun jumlah seluruh penumpang tak lebih dari 200an orang, separuh dari kapasitas pesawat Airbus A330 (tipe terbaru yang mampu mengangkut  500-600 penumpang). Mungkin tragedy hilangnya MH 270, beberapa hari yang lalu masih mempengaruhi orang untuk mengunakan maskapai Malaysia Airlines, dan benar saja.. baru beberapa menit kami duduk dalam kabin pesawat yang katanya tipe terbesar saat ini, pramugara pesawat mempersilakan kami  jika ingin pindah ke kursi-kursi yang kosong.
Dengan cepat aku langsung pindah ke barisan bangku di depanku yang masih kosong, lumayan deretan 4 kursi kosong ini bisa membuat tubuhku tidur berbaring selam 19 jam perjalanan nonstop Paris-Kualalumpur. Mm Sylvine sampai kaget melihat gerak cepatku pindah tempat duduk, hingga ia berteriak “ Hi Asep, where are you going? we have work on our paper!! so don’t go away from me….” aku hanya tersenyum dan menjawab “ I just go to next row… and we will work on it, when you’re ready.. benar saja tak lama setelah take off, kulihat Mm Sylvine sudah tertidur, begitu juga dengan rombongan lainnya, hanya M.Violier yang masih sibuk dengan notebook-nya, sepertinya ia sedang mempersiapkan materi presentasinya.
Suasana KL International Airport
Perjalanan Pari-Kualalumpur  selama ±19 jam, cukup menyenangkan Interior pesawat baru ini lebih lengkap dan menarik terutama entertainment channel yang disediakan cukup variatif, sebagian besar film box office terbaru. Hanya satu jam aku dan Mm.Sylvine  sempat berdiskusi tentang materi yang akan kami presentasikan pada seminar di Bali nanti, sisanya sibuk menikmati hiburan di channel entertainment masing-masing.

Sabtu, 22 Maret 2014
Jam 06.30 Pesawat mendarat di Kuala Lumpur International Airport. kami hanya punya waktu 2 jam transit di airport yang cukup sibuk ini. Prioritas utama kami adalah mencari terlebih dahulu Gate.. dimana pesawat berikutnya (MH) akan diberangkatkan dari KL menuju Jakarta. Ternyata Gate tersebut berada di terminal II yang harus ditempuh dengan menggunakan Shuttle Train. Terminal II memang diperuntukkan untuk pesawat-pesawat Malaysia Airlines yang melayani jalur penerbangan regional Asia, dengan jarak tempuh yang tak terlalu jauh (short haul) 1-2 jam, sedang terminal I, untuk rute-rute penerbangan Long Haul, dengan pesawat-pesawat berbadan lebar, tentu saja terminal I lebih besar dan lebih ramai disbanding terminal II.
Memasuki gate ;; kami disodori form beacukai dan keimigrasian Indonesia, cukup merepotkan juga mengisinya, walaupun tak banyak pertanyaan. Menurutku ini sama sekali tidak praktis.. Pesawat MH take off terlambat 15 menit dari jadwal. Pagi ini cukup cerah, pesawat dengan kapasitas ± 200 ini penuh dengan penumpang dari Malaysia yang ingin menghabiskan “week end” di Indonesia, khususnya Jakarta dan Bandung.
Pesawat harus beputar-putar selama 15 menit diatas Jakarta dan sekitarnya, karena menunggu giliran panjang untuk landing di Soekarno-Hatta International Airport. Hmm ini memang menjadi pembicaraan tingkat nasional yang belum ada penyelesaian, kepadatan lalu lintas pesawat di CGK sudah melebihi kemampuannya yang berakibat pada “kebiasaan” telatnya jadwal penerbangan, terutama jalur domestic dari/ke CGK.
Terlambat 30 menit dari jadwal yang sudah aku susun, berimbas pada proses imigrasi dan pengambilan barang, semua jadi molor, untuk menghindari keterlambatan check in pada pesawat GA yang akan membawa kami ke Yogyakarta, dengan setengah panik, kuminta petugas Angkasa Pura untuk membantu kami check in, syukur masih ada waktu 1 jam kami menunggu boarding. Tapi kesempatan untuk bertemu dengan anak-istri yang sudah menunggu di CGK hanya 15 menit saja! tapi tak apalah, yang penting semua berjalan lancar..
Sambil kuperkenalkan istri dan anak-anakku kepada M. Violier dll, aku langsung berpamitan kepada mereka, kulihat muka sedih Audy (anak ke 2) karena hanya bertemu sebentar, tapi kusampaikan kalau “minggu depan ayah sudah kembali ke Jakarta”
Perjalanan Jakarta –Yogyakarta, cukup menegangkan, bagaimana tidak selama 45 menit penerbangan, cuaca sangat tidak bersahabat.. awan putih tebal membuat pesawat terguncang-guncang keras dan yang paling mendebarkan adalah saat landing… rasanya pesawat masih meluncur sangat cepat sedang landasannya tak terlalu panjang, posisiku yang tepat berada disamping sayap bisa melihat jelas bagaimana rem pesawat (disayap) yang naik turun, berusaha untuk memperlabat laju pesawat.

 
Mm.Veronique  Mondeau, M. Violier, and Mm. Gweanelle
Jam 12.30 cuaca kota Yogyakarta sudah sangat panas sekali, membuat Mm. Sylvine dan Mm. Gweanelle segera menganti baju mereka setelah luggage kami ambil di bandara Adisucipto.
Rencana untuk langsung mengunjungi Candi Borobudur kami ubah, mengingat waktu yang sudah cukup siang, Selesai memasukkan tas kedalam mobil, kami menuju Candi Prambanan yang jaraknya ± 10 km dari Bandara.
Cukup sulit untuk mencari guide yang mampu berbahasa Perancis, dari sekian banyak guide yang terdaftar di Information Office, hanya ada 2 orang dan itupun terkadang merangkap juga sebagai guide Indonesia dan Inggris. 15 menit menunggu mereka kembali, namun tak muncul juga, akhirnya kami putuskan untuk mengunjungi Candi Prambanan ini tanpa guide, hanya berbekal brochure berbahasa Perancis yang tersedia di Information Office.
M. Violier sangat antusias sekali melihat candi-candi yang terdapat dikomplek Candi Prambanan ini (Siwa, Wisnu, Brahmana). Bahkan saat kutawarkan untuk melihat candi Roro Mendut yang jaraknya cukup jauh, iapun segera menyetujuinya
 
Berphoto didepan Candi Prambanan
Perjalanan panjang dan melelahkan ini kami akhiri dengan chek in di hotel Phoenix, salah satu heritage hotel di kota Yogyakarta yang dikelolah oleh accor group dengan M Gallery. Kedatangan kami lansung dismabut oleh Thomas, GM hotel yang juga orang Perancis. Dialah yang menawarkan kepada kami untuk tinggal di hotel ini dengan harga special. walaupun dengan harga khusus, tetap saja masih mahal untuk ukuran kantongku, Aku sudah memesan kamar di losmen yang tak jauh dari hotel tersebut.
Dihotel inipula IMIS ESTHUA akan menjamu beberapa stakeholder pariwisata di Yogyakarta (Dinas Pariwisata DI Yogyakarta, Univesitas Gadjah Mada dan PT.Taman Candi Barobudur) untuk makan malam bersama, sekaligus penjajakan kerjasama yang dapat dilakukan oleh IMIS ESTHUA bagi pariwisata di Yogyakarta.
Jam 18.30, belum ada tamu undangan yang muncul, khawatir juga aku… namun Thomas menenangkan bahwa biasanya tamu-tamu pemerintah datang 30-60 menit dari jadwal undangan. Benar saja.. jam 19.00 hampir semua undangan tiba. Alhamdulillah.. tidak sia-sia aku menyusun dan mengundang mereka selama ini.
Suasana Dinner dengan para stakeholder pariwisata Yogyakarta
Pertemuan yang dihadiri oleh pimpinan tiap-tiap lembaga ini cukup berjalan lancar, banyak ide dan kerjasama yang bisa dilakukan oleh Université d’Angers (IMIS ESTHUA) baikdengan pihak Pemda DI Yogyakarta, PT. Taman Candi maupun kepada UGM. Jamuan makan malam berakhir jam 21.30

Minggu, 23 Maret
Pukul 08.30 aku sudah berada di Lobby hotel, tak lama ikut menikmati sarapan di restaurant hotel bersama M. Violier dkk, walaupun aku bukan tamu di hotel tersebut, tapi cuek aja, apalagi para petugas hotel tahu kalau aku menemani tamu-tamu GM mereka.
Rute perjalanan dari pagi hingga malam nanti akan cukup melelahkan, mengunjungi Borobudur, lalu berkunjung ke Gunung Merapi dan terakhir ke Desa Wisata Penting Sari, yang semuanya lumayan jauh dari Kota Yogyakarta. 
M. Violier dan Mm Sylvine menunganggi Gajah di taman Candi Borobudur
Kali ini kami ditemani seorang guide berbahasa Perancis saat mengunjungi Candi Borobudur. Sejak dari candi Prambanan kemarin, Mm Sylvine suda mengingatkanku tentang keinginannya untuk menungaangi Gajah. ini adalah ke-3 kali ia mengunjungi Candi Borobudur dan tiap kali keinginannya untuk naik gajah belum pernah terwujud. Kali ini keinginan tersebut dapat terwujud, bukan hanya Mm Sylvine tapi juga M.Violier dan Mm.. ikut menunganggi Gajah, walaupun hanya berkeliling beberapa ratus meter di kawasan tamn candi, namun mereka terlihat cukup « exiciting » sekali. Aku dan Mm Gweanelle tak ikut naik ke puncak candi Borobudur karena cuaca yang panas sekali dan “cukup” membosankan bagiku..
Berphoto bersama di depan Candi Borobudur
Selesai berkeliling Candi Borobudur, perjalanan kami lanjutkan mnuju Gunung Merapi, setelah sebelumnya kami sempat menikmati makan siang dengan menu tradisional disalah satu restaurant Indonesia.
Desa… yang mengalami kerusakan terparah akibat letusan Gunung Merapi di tahun 2009, dimanan salah satu korban meninggal adalah “Mbah Marijan” yang dianggap sebagai juru kunci Gunung teraktif di Indonesia ini. Kini desa tersebut berubah menjadi desa tujuan wisata utama bagi wisatawan nusantara maupun wisatawan asing yang ingin melihat lebih dekat dampak dari letusan Gunung Merapi. Berbagai aktivitas ditawarkan oleh masyarakat setempat, mulai dari adventure mengendarai Jeep, motor trail hingga ojek motor untuk mendekati puncak Gunug Merapi. Tapi Mm Sylvine dan M. Violier menolak saat kutawarkan untuk menggunakan ojek naik keatas untuk melihat lebih jelas puncak Gunug Merap. Jalan yang menanjak sejauh 1km kami lakukan dengan berjalan kaki.. capek sekali rasanya, tapi buat Mm Sylvine ini suatu tantangan.
Hanya 20 menit kami berada diatas, waktu sudah menunjukkan pukul 15.30, kami harus segera turun untuk melanjutkan perjalanan mengunjungi desa Wisata Penting Sari. Desa wisata ini berada di kaki Gunung Merapi, searah jalan menuju kota Yogyakarta. Mm Sylvine dan M.Violier sangat tertarik akan manajemen desa wisata ini yang mampu menerapkan sustainable tourism. Mengelilingi desa penting Sari dengan dipandu oleh bapak … membuat delegasi IMIS ESTHUA lebih memahami pengembangan pariwisata yang melibatkan peran serta masyarakat sekitar (CBT)